Laman

Rabu, 28 Desember 2011

laporan limnologi debit air


BAB I.  PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat aquatic. Dalam prakteknya suatu habitat aquatic apabila mediumnya baik external maupun internal adalah air. Aquatic merujuk perairan yang meliputi laut, sungai, danau, gua basah, air tanah, rawa baik asin maupun tawar dan sejenisnya.
Air adalah fasa cair dari persenyawaan kimia yang dibentuk oleh dua bagian berat hydrogen dan 16 bagian berat oksigen. Didalam air itu dikandung pula sejumlah kecil air berat, gas, dan zat padat, terutama berbentuk garam dalam larutan. Benda cair seperti yang biasa terdapat didanau, sungai, rawa, sumur dan sebagainya.
Air merupakan pokok bagi kehidupan dan secara keseluruhan mendominasi komposisi kimia dari semua organisme. Terdapatnya dimana-mana dalam biota sebagai tumbuhan metabolisme biokimia dan mempunyai sifat kimia serta fisika yang unik.
Perairan umum merupakan bagian permukaan bumi yang secara permanen berkala digenangi air, baik air tawar, payau, atau laut yang dihitung dari garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami maupun buatan.
Perairan Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar terutama sector perikanan maupun keperluan lainya. Ini dapat dilihat dari luas perairan yang ada dan jenis ikan yang terdapat di dalamnya.
Waduk atau danau buatan adalah genangan air yang terjadi akibat pembendungan aliran air atau sungai yang bersifat bukan alami. Pembangunan DAM pada suatu aliran sungai mengakibatkan terjadinya perubahan dari ekosistem perairan mengalir (lotik) menjadi  ekosistem perairan tergenang (lentik). Perubahan ekosistem ini dapat pula mempengaruhi kehidupan biota perairan sungai asalnya.
Perikanan umumnya tidak mengkonsumsi air, tapi sangat memerlukan kondisi kualitas dan kuantitas air tertentu, termasuk perlindungan lingkungan dan kelestarian fungsi sumberdaya flora dan fauna yang terdapat dalam air. Kualitas air secara luas dapat diartikan secara fisik, kimiawi dan biologis yang mempengaruhi manfaat penggunaan bagi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

1.2. Tujuan Pratikum
            Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui debit air di suatu aliran perairan terbuka yang terdapat sekitar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

1.3 Manfaat Pratikum
Manfaat dilakukannya praktikum ini adalah praktikan dapat mengetahui bagaimana cara-cara dalam pengukuran debit air dan mengetahui apa contoh dari kegunaan pengukuran debit air, serta dapat mengetahui konstanta perairan dan menghitung debit air tersebut dengan menggunakan rumus.



BAB II.  TINJAUAN PUSTAKA

Debit air adalah jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu (sungai/saluran/mata air) per satuan waktu (ltr/dtk, m3/dtk, dm3/dtk). Pemilihan lokasi pengukuran debit air dapat dilakukan di bagian sungai yang relatif lurus, jauh dari pertemuan cabang sungai, tidak ada tumbuhan air, aliran tidak turbulen, dan aliran tidak melimpah melewati tebing sungai (Penuntun Praktikum Limnologi, 2011).
Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3 – 1,4 milyard km3 air, 97,5 % adalah air laut, 1,75 % berbentuk es dan 0,73 % berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah, dan sebagainya. Hanya 0,001 % berbentuk uap di udara. Air di bumi ini mengulangi terus-menerus sirkulasi, prosipitasi, dan pengaliran keluar (out flow). Air menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi awan. Sesudah melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan laut atau daratan.sebelum tiba ke permukaan bumi sebagian langsung menguap ke udara dan sebagian tiba ke permukaan bumi. Tidak semua bagian hujan yang jatuh ke permukaan bumi mencapai permukaan tanah. Sebagian akan tertahan tumbuh-tumbuhan dimana sebagian akan menguap dan sebagian lagi akan jatuh atau mengalir melalui dahan-dahan ke permukaan tanah (Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku, 1976).
Cara pengukuran debit air dapat dilakukan dengan dibendung, perhitungan debit dengan mengukur kecepatan aliran dan luas penampang melintang, didapat dari kerapatan larutan obot, dengan menggunakan pengukur arus magnitis, pengukur arus gelombang supersonis, meter venturi, dan seterusnya (Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku, 1976).
Menurut Asdak (2002), debit aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai persatuan waktu. Dalam system SI besarnya debit dinyatakan dalam sattuan meter kubik. Debit aliran juga dapat dinyatakan dalam persamaan Q = A x v, dimana A adalah luas penampang (m2) dan V adalah kecepatan aliran (m/detik).
Menurut Langrage (1736), suatu cara menyatakan gerak fluida adalah dengan mengikuti gerak tiap partikel didalam fluida. Hal ini sulit, karena kita harus menyatakan koordinat X, Y, Z dari partikel fluida dalam menyatakan ini sebagai fungsi waktu. Cara yang digunakan adalah dengan penerapan kinematika partikel gerak atau aliran fluida.
Leonard Euler (1783), menyatakan bahwa rapat massa dan kecepatan pada tiap titik dalam ruang berubah dengan waktu. Fluida sebagai medan rapat massa dan medan vektor kecepatan. Jika kecepatan (V) dari tiap partikel fluida pada satu titik tertentu adalah tetap, dikatakan bahwa aliran tersebut bersifat lunak. Pada suatu titik tertentu tiap partikel fluida akan mempunyai kecepatan (V) yang sama, baik besar maupun arahnya. Pada titik lain suatu partikel mungkin sekali mempunyai kecepatan yang berbeda, akan tetapi tiap partikel lain pada waktu sampai titik terakhir mempunyai kecepatan sama seperti partikel yang pertama. Aliran seperti ini terjadi pada air yang pelan. Dalam aliran tidak lunak kecepatan (Vmerupakan fungsi waktu.
            Menurut Uktoselya (1991), mengemukakan bahwa arus dapat menimbulkan kerusakan fisik pada sungai dan muara sungai seperti terjadinya pengikisan darat, pemindahan sedimen. Disamping itu, besarnya volume air yang mengalir dan kuatnya pasang surut akan mempengaruhi sistem arus pada daerah muara.
Kekeruhan suatu perairan berkaitan erat dengan jenis sedimen yang terakumulasi dan kuat arus. Dimana pada perairan yang kandungan sedimennya didominasi oleh fraksi lumpur dan senantiasa teraduk oleh arus akan lebih keruh bila dibandingkan dengan perairan yang sedimen berpasir. Hal ini berlawanan dengan kecerahan suatu perairan (Lukman, 1995).
Kecerahan perairan dipengaruhi oleh daya penetrasi cahaya ke dalam lapisan permukaan perairan. Semakin tinggi daya penetrasi cahaya ke dalam perairan maka nilai kecerahan akan meningkat. Menurut Nontji (1993), bahwa kecerahan suatu perairan ditentukan oleh suatu penetrasi cahaya matahari yang dapat menembus sampai ke dasar perairan.
Danau adalah cekungan yang terjadi karena peristiwa alam yang menampung dan menyimpan air hujan, mata air, rembesan, dan/atau air sungai. Waduk adalah badan air baik yang alami maupun buatan, yang digunakan untuk menyimpan, mengatur, dan mengendalikan sumber daya air. Air adalah fasa cair dari persenyawaan kimia yang dibentuk oleh dua bagian berat hydrogen dan 16 bagian berat oksigen. Didalam air itu dikandung pula sejumlah kecil air berat, gas, dan zat padat, terutama berbentuk garam dalam larutan. Benda cair seperti yang biasa terdapat didanau, sungai, rawa, sumur dan sebagainya. (Hehannusa, P.E. dan Haryani, Gadis S., 2001).
            Perairan umum merupakan bagian permukaan bumi yang secara permanen berkala digenangi air, baik air tawar, payau, atau laut yang dihitung dari garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami maupun buatan (Dinas Perikanan Tingkat 1 Propinsi Riau, 1997).
            Perairan Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar terutama sector perikanan maupun keperluan lainya. Ini dapat dilihat dari luas perairan yang ada dan jenis ikan yang terdapat di dalamnya (Djuhanda, 1981).
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat aquatic. Dalam prakteknya suatu habitat aquatic apabila mediumnya baik external maupun internal adalah air. Aquatic merujuk perairan yang meliputi laut, sungai, danau, gua basah, air tanah, rawa baik asin maupun tawar dan sejenisnya (Penuntun Praktikum Ekologi Perairan, 2011).
Perikanan umumnya tidak mengkonsumsi air, tapi sangat memerlukan kondisi kualitas dan kuantitas air tertentu, termasuk perlindungan lingkungan dan kelestarian fungsi sumberdaya flora dan fauna yang terdapat dalam air. Kualitas air secara luas dapat diartikan secara fisik, kimiawi dan biologis yang mempengaruhi manfaat penggunaan bagi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung (Boyd, 1979).
Umumnya ciri-ciri danau buatan ini adalah adanya fluktuasi tinggi permukaan air dan tingginya turbiditas air (Koesoebiono, 1997), selanjutnya Siagian (1997) mengemukakakan bahwa pada waduk terjadi fluktuasi air masuk dan air keluar sehingga ada pergantian nutrien  yang menyebabkan produksi primer pada waduk lebih besar dibandingkan dengan danau.



III.  BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat
             Praktikum yang berjudul “Pengukuran Debit Air” dilaksakan pada hari Rabu, tanggal 27 Oktober 2011, pukul 13.00 – 15.00 WIB. Praktikum ini dilaksanakan di lapangan tepatnya di aliran sungai kecil dibelakang Fakultas Ilmu Kelautan yaitu dekat waduk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

3.2 Bahan dan Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah:
1.
Pipa kaca
2.
Tali rafia
3.
Penggaris
4.
Stop watch (Handpone)
5. Weir
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1. Air
2.
Kayu kering           
            Yang dijadikan bahan (objek praktikum) dalam praktikum ini adalah perairan yang berada disekitar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
3.3 Metode Praktikum
            Metode Pratikum Limnologi yang berjudul Pengukuran Debit Air ini adalah metode Emboys float method yang dilakukan dengan metode survey, yaitu dengan melakukan kegiatan peninjauan, pengamatan dan pengukuran serta pengambilan data dan informasi melalui pengamatan langsung dilapangan.

3.4  Prosedur Praktikum
      Adapun prosedur praktikum kali ini adalah dengan menggunakan metode Emboys Float Method.  Yang sudah memenuhi syarat yaitu:
  1. Jauh dari pertemuan cabang perairan.
  2. Tidak turbulen.
  3. Perairan relatif lurus
  4. Tidak ada tumbuhan air
  5. Aliran tidak melimpah melewati tebing perairan.
            Adapun  cara kerjanya yaitu: Mencari kayu yang lurus sebanyak  enam buah untuk membentuk suatu wilayah atau kawasan dan ditandai dengan w1,w2 dan w3 Mengukur  lebar perairan dari masing-masing W kemudian dicatat. Tinggi atau kedalaman masing-masing diukur dan dicatat. Jarak dari W1 sampai W3 diukur dan dicatat. Melihat konstanta air jika bepasir maka konstanta air 0,8 dan jika berlumpur konstanta air 0.9. Menghitung kecepatan arus dengan menggunakan botol aqua kosong. Mencari H’ dengan menggunakan weir dan mengukur kedalaman air untuk mencari H. Menghitung Debit Air dengan menggunakan rumus R = WDAL/T.








 






IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari praktikum yang telah kami lakukan maka didapat hasil Pengukuran Debit Air, maka didapatkan hasil sebagai berikut :
L (jarak yang ditempuh pelampung)            :  150 cm
w1 ( lebar)                                                     :  80  cm
w2 (lebar)                                                      :  85 cm
w3 (lebar)                                                      :  90 cm
d1 (kedalaman)                                             :  63 cm
d2 ( kedalaman)                                            :  58 cm
d3 (kedalaman)                                             :  43 cm 
T (waktu)                                                     :  32 dtk
A (konstanta perairan)                                 :  0,8
            Dari data-data tersebut, maka dapat rata-rata sebagai berikut:
W= w1 + w2 + w3
                  
3
W= 80 cm+85 cm+90 cm    = 85 cm
                    3
D=  d1+ d2 + d3
              3
D= 63 cm + 58 cm + 43 cm  = 54,7 cm
                      3
R  =  WDAL/T
R  =  85 cm  x  54,7 cm  x  0,8  x 150 cm   
                        32 dtk
R  =   17435, 625 cm = 174,36 m2/s
           
         
Q         = 2,5 H5/2
            = 2,5.605/2
            = 1505/2
            = 12,2474

4.2 Pembahasan
Debit air adalah jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu (sungai/saluran/mata air) per satuan waktu (ltr/dtk, m3/dtk, dm3/dtk). Pemilihan lokasi pengukuran debit air dapat dilakukan di bagian sungai yang relatif lurus, jauh dari pertemuan cabang sungai, tidak ada tumbuhan air, aliran tidak turbulen, dan aliran tidak melimpah melewati tebing sungai (Penuntun Praktikum Limnologi, 2011).
Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3 – 1,4 milyard km3 air, 97,5 % adalah air laut, 1,75 % berbentuk es dan 0,73 % berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah, dan sebagainya. Hanya 0,001 % berbentuk uap di udara. Air di bumi ini mengulangi terus-menerus sirkulasi, prosipitasi, dan pengaliran keluar (out flow). Air menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi awan. Sesudah melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan laut atau daratan.sebelum tiba ke permukaan bumi sebagian langsung menguap ke udara dan sebagian tiba ke permukaan bumi. Tidak semua bagian hujan yang jatuh ke permukaan bumi mencapai permukaan tanah. Sebagian akan tertahan tumbuh-tumbuhan dimana sebagian akan menguap dan sebagian lagi akan jatuh atau mengalir melalui dahan-dahan ke permukaan tanah (Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku, 1976).
Perairan umum merupakan bagian permukaan bumi yang secara permanen berkala digenangi air, baik air tawar, payau, atau laut yang dihitung dari garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami maupun buatan (Dinas Perikanan Tingkat 1 Propinsi Riau, 1997).
Cara pengukuran debit air dapat dilakukan dengan dibendung, perhitungan debit dengan mengukur kecepatan aliran dan luas penampang melintang, didapat dari kerapatan larutan obot, dengan menggunakan pengukur arus magnitis, pengukur arus gelombang supersonis, meter venturi, dan seterusnya (Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku, 1976).
            Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat aquatic. Dalam prakteknya suatu habitat aquatic apabila mediumnya baik external maupun internal adalah air. Aquatic merujuk perairan yang meliputi laut, sungai, danau, gua basah, air tanah, rawa baik asin maupun tawar dan sejenisnya (Penuntun Praktikum Ekologi Perairan, 2011).
Perikanan umumnya tidak mengkonsumsi air, tapi sangat memerlukan kondisi kualitas dan kuantitas air tertentu, termasuk perlindungan lingkungan dan kelestarian fungsi sumberdaya flora dan fauna yang terdapat dalam air. Kualitas air secara luas dapat diartikan secara fisik, kimiawi dan biologis yang mempengaruhi manfaat penggunaan bagi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung (Boyd, 1979).






 V. KESIMPULAN DAN SARAN


3.1. Kesimpulan
Dari pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pengukuran debit air menggunakan metode Emboys Float berbeda dengan menggunakan cara Kecepatan – Luas. Perbedaan ini disebabkan oleh luas penampang basah pada cara Kecepatan – Luas, sedangkan pada Emboys Float Method menggunakan lebar rata-rata dan kedalam rata-rata.
Dalam pengukuran debit air, pemilihan lokasi sangat penting dilakukan. Lokasi tersebut harus memiliki ketentuan sebagai berikut: di bagian sungai yang relatif lurus, jauh dari pertemuan cabang sungai, tidak ada tumbuhan air, aliran tidak turbulen, dan aliran tidak melimpah melewati tebing sungai.


3.2. Saran
Dalam praktikum hendaknya praktikan lebih memperhatikan arahan sehingga praktikum akan lebih lancar. Sebelum melakukan praktikum, segala sesuatu yang berhubungan dengan praktikum telah disiapkan. Baik alat-alat yang akan digunakan pada praktikum maupun bahan atau sampel yang akan dijadikan objek praktikum.
Para praktikan juga harus memahami teori yang akan dipraktikumkan atau prosedur-prosedur dalam melakukan praktikum, supaya saat melakukan praktikum tidak terjadi kekeliruan.

DAFTAR PUSTAKA

                                                                                                                                               
Abidin, H. Z. 2000. Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Padya Paramita. Jakarta.
Adriman et al., 2006. Penuntun Praktikum Ekologi Perairan. Laboratorium Ekologi Perairan. Faperika, Unri, Pekanbaru. 29 hal.

Asdak. 2002. “Geodetic Glossary”. National Geodetic Survey
Boyd. E. C., 1979. Water Quality in Warm Water Fish Ponds. Auburn Univercity Agricultural Experiment Stasion. Alabama. 389 p.
Bronmark, C. and L.A. Hansson, 1998. The Biology of Lakes and Ponds. Oxford University Press. Oxford. 216 p.
Darley, W.M. 1982. Algae Biology ; a Physiological Approach. Blackawell Scientific Publications. London. 168 p.
Davis, C. C. 1955. The Marine and Freshwater Plankton. Michigan State University Press. New York. 562 p.
Dinas Perikanan Tingkat I Propinsi Riau. 1997. Buku Tahunan statistik II. I. Press. Jakarta. 393 hal.
Djuhanda, T., 1981. Dunia Ikan. Amrico. Bandung.
Edge, P and P, Misra. 1999. “Scanning The Issue/Technology Special Issue on Global Positioning System” proceeding of the IEEE, volume 87, NO 1. January. Pp 1-17.
Hehannusa, P.E. dan Haryani, Gadis S., 2001. Kamus Limnologi (perairan Darat). Panitia Nasional Program Hidrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. IHP-UNESCO. 230 hal.
Koesoebiono. 1979. Dasar-dasar Ekologi Umum. Bagian IV : Ekologi Perairan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. 145 hal.
Nurdin, S. 1996. Kumpulan Literatur Fotosintesis Pada Fitoplankaton. Fakultas Perikanan Dan Ilm Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru. 580 Hal (Tidak diterbitkan).
Nurdin, S., E. Sumiarsih., A. Harnalin., Zulkarnaini., S. Harahap. 1996. Hubungan Pola Penyebaran MPT dengan Produktivitas Primer di Waduk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru. Lembaga penelitian Universitas Riau, Pekanbaru. 42 hal.
Rawi, S. 1993. Survey dan Pemetaan wilayah Pantai. Dinas Hidro Oseanografi, MABES TNI AL. Jakarta, disampaikan dalam seminar Teknik Pantai LPTP-BPP Teknologi bekerjasama dengan JICA. Yogyakarta. 10 hal.
Sihotang,C., 1988. Limnologi II. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau, Pekanbaru, 64 hal (Tidak diterbitkan).
Suwignyo, P. 1981. Kosep Pengelolaan Perikanan di waduk dalam perceding Seminar Perikanan Perairan Umum 19-21 Agustus 1981. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. PUSLIT BANGKAN. Jakarta 5 hal.
Welch, p. S, 1952. Limnology 2nd edition. Mc Graw-Hill Book Company, Inc. New York. Toronto and London. 538 pp.



















 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar